FOTO : Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Samosir Tetty Naibaho. (RP/SS).
RakyatPost.id, Samoair,- Viral perhitungan PAD dan jumlah kunjungan wisata yang begitu pesat ke Samosir pada tahun 2025, membuat perhitungannya menjadi perdebatan dibeberapa media dan group- group medsos, berikut penjelasan Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Samosir Tetty Naibaho kepada RakyatPost.id.
“Saya Tetty Naibaho dengan senang hati menjelaskan terkait dengan berbagai pendapat, penilaian atau opini tentang PAD dan jumlah kunjungan, ” katanya, Jumat (23/1/2026).
Dari tahun ke tahun Kabupaten Samosir mengalami kenaikan jumlah kunjungan wisatawan ke objek wisata, dimana tahun 2025 yang mencapai 2.451.269 wisatawan, dengan rincian : 1.474.952 kunjungan ke objek wisata yang dikelola swasta, seperti Sibea-Bea, Batu Kursi Siallagan, Holbung, dan Kampung Ulos dan 976.317 kunjungan ke objek wisata yang dikelola Pemerintah Kabupaten Samosir, seperti Tomok, Air Terjun Efrata, Pasir Putih 1, DTW Lagundi, Huta Siallagan, Batu Hobon, Air Terjun Naisogop, Pasir Putih 3, Tatea Bulan, PIS, Pusat Informasi Geopark Kaldera Toba, Aek Rangat, Batu Sawan, Panorama Tele, dan WFC Pangururan, jelas Tetty Naibaho.
Tetty Naibaho menjelaskan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, awalnya untuk tahun 2025 ditargetkan memperoleh PAD sebesar Rp 6 miliar, kemudian berkembang diperubahan anggaran menjadi Rp 12 miliar, puji syukur target tersebut dapat terlampaui dengan capaian lebih dari Rp 14 miliar. Target tersebut didapat dari 14 objek wisata yang dikelola dinasnya, dengan PAD yang diperoleh mencapai Rp 14.194.153.297, jelasnya.
PAD dari sektor pariwisata itu diperoleh dari tarif tiket masuk ke objek wisata, pertunjukan, sewa gedung dan pesanggarahan di objek wisata. Berikut rincian PAD dari masing-masing objek wisata:
– Tomok: Rp 283.610.000
– Batu Kursi Persidangan: Rp 26.300.000
– Pantai Indah Situngkir: Rp 850.000
– Pasput/Raja Hotel Pintu 1: Rp 204.900.090
– Pasput Pintu 3: Rp 39.535.000
– Aek Rangat: Rp 83.210.000
– Batu Sawan: Rp 20.765.000
– Air Terjun Naisogop: Rp 7.041.000
– Menara Pandang Tele: Rp 7.438.610.000
– Qris Menara Pandang Tele: Rp 75.630.107
– Air Terjun Efrata: Rp 826.809.000
– Qris Air Terjun Efrata: Rp 14.567.000
– Batu Hobon: Rp 3.095.000
– Kawasan Sigulatti: Rp 38.470.000
– Sopo Guru Tatea Bulan: Rp 46.950.000
– Pantai Lagundi: Rp 48.230.000
– Water Front Pangururan Rp.4.991.581.100,
– Sewa Kios Batu Hobon Rp.1.500.000, sewa
-cafe toilet internasional tele Rp.9.100.000,
– Ret tempat penginapan/pesanggrahan/villa Rp.11.000.000 dan sewa resto roma indah tele Rp.13.000.000.
“Melalui berita ini, Tetty Naibaho meluruskan bahwa PAD dari sektor pariwisata tidak dapat dihitung secara langsung berdasarkan jumlah pengunjung, karena tidak semua objek wisata dikelola oleh pemerintah dan tarif masuk juga bervariasi,” jelasnya.
“Kedepan, dalam meningkatkan PAD dari sektor pariwisata, Kadis Pariwisata itu menyampaikan beberapa strategi yang akan dilakukan, yaitu melaksanakan berbagai event berskala lokal, nasional, dan internasional. Selain itu, Dinas Pariwisata juga akan terus berpromosi melalui media sosial yang dikelola, serta kerja sama dengan mitra pariwisata dan media online dan elektronik,” jelasnya.
Untuk tahun 2026 ini Dinas Pariwisata ditargetkan memperoleh PAD sekitar 17 milyar dengan harapan jumlah kunjungan ke objek wisata 2,8 juta.
Karena itu Tetty Naibaho berharap dukungan masyarakat Samosir untuk menjadi tuan rumah yang baik, menjaga kebersihan, dan memberikan pelayanan yang baik kepada wisatawan.
Selain itu, para pelaku wisata juga diharapkan untuk menjaga harga makanan dan minuman serta akomodasi yang stabil dan tidak menaikkan harga di atas normal. (SS).















