RakyatPost.id, Jakarta, – Sejarah Imlek ternyata tidak selalu identik dengan lampion merah, angpau, dan makan malam keluarga yang hangat. Di balik kemeriahan Tahun Baru Lunar, ada periode kelam ketika tradisi ini pernah ditekan, dicap feodal, bahkan nyaris dihapus dalam pusaran politik dan revolusi.
Berdasarkan catatan sejarah, Sejarah Imlek berakar jauh sebelum Tiongkok memiliki kaisar pertama. Tradisi ini lahir dari masyarakat agraris kuno di kawasan Sungai Kuning sekitar 5.000 hingga 3.000 SM. Saat itu, pergantian musim dari dingin ke semi menjadi penanda harapan baru bagi petani yang menggantungkan hidup pada hasil panen.
Dalam konteks tersebut, Sejarah Imlek bukan sekadar perayaan budaya, melainkan ritual syukur dan doa untuk musim tanam yang baru. Masyarakat kuno mengamati fase bulan dan titik balik matahari musim dingin (winter solstice) sebagai dasar penanggalan. Dari sinilah berkembang kalender luni-solar yang menjadi fondasi Tahun Baru Imlek.
JAKARTA – Sejarah Imlek ternyata tidak selalu identik dengan lampion merah, angpau, dan makan malam keluarga yang hangat. Di balik kemeriahan Tahun Baru Lunar, ada periode kelam ketika tradisi ini pernah ditekan, dicap feodal, bahkan nyaris dihapus dalam pusaran politik dan revolusi.
Berdasarkan catatan sejarah, Sejarah Imlek berakar jauh sebelum Tiongkok memiliki kaisar pertama. Tradisi ini lahir dari masyarakat agraris kuno di kawasan Sungai Kuning sekitar 5.000 hingga 3.000 SM. Saat itu, pergantian musim dari dingin ke semi menjadi penanda harapan baru bagi petani yang menggantungkan hidup pada hasil panen.
Dalam konteks tersebut, Sejarah Imlek bukan sekadar perayaan budaya, melainkan ritual syukur dan doa untuk musim tanam yang baru. Masyarakat kuno mengamati fase bulan dan titik balik matahari musim dingin (winter solstice) sebagai dasar penanggalan. Dari sinilah berkembang kalender luni-solar yang menjadi fondasi Tahun Baru Imlek.
Dari Tradisi Rakyat ke Legitimasi Kekuasaan
Sebelum distandarisasi, setiap dinasti di Tiongkok memiliki penetapan awal tahun yang berbeda. Namun perubahan besar terjadi pada masa Dinasti Han, khususnya di era Kaisar Han Wudi (141–87 SM). Pada 104 SM diperkenalkan Kalender Taichu yang menetapkan bulan pertama lunar sebagai awal tahun resmi negara.
Sejak saat itu, Tahun Baru Lunar tidak hanya menjadi perayaan rakyat, tetapi juga instrumen politik. Kaisar dianggap sebagai “Putra Langit” yang memerintah berdasarkan mandat surga. Kalender resmi menjadi simbol kontrol atas waktu dan kosmos. Merayakan tahun baru berarti menunjukkan harmoni antara negara dan tatanan langit.
Imlek pun bertransformasi menjadi festival yang memiliki fungsi integratif. Dengan satu kalender nasional, seluruh wilayah kekaisaran mengikuti siklus waktu yang sama. Administrasi, pajak, dan pertanian menjadi lebih teratur. Di sinilah Imlek berperan sebagai alat stabilitas sosial.
Masa Paling Kritis: Revolusi Kebudayaan
Meski melewati berbagai dinasti, perang saudara, hingga penjajahan asing, Imlek hampir tidak pernah benar-benar berhenti dirayakan. Namun situasi berubah drastis ketika komunisme berkuasa di bawah Mao Zedong pada 1949.
Pemerintah Republik Rakyat Tiongkok mulai menggunakan kalender Gregorian secara resmi. Tahun Baru Lunar tetap ada, tetapi istilahnya diubah menjadi Festival Musim Semi (Chun Jie). Pada awal 1950-an, Imlek belum dilarang, tetapi unsur yang dianggap feodal dan tahayul mulai dikritik.
Tekanan memuncak saat Revolusi Kebudayaan (1966–1976). Gerakan penghancuran “Empat Hal Lama”—kebiasaan lama, budaya lama, tradisi lama, dan pemikiran lama—membuat banyak ritual tradisional ditekan. Sembahyang leluhur, kuil, dan simbol budaya diawasi ketat. Perayaan publik dibatasi, bahkan di sejumlah wilayah nyaris tak terlihat.
Meski tidak ada dekret resmi yang menghukum mati perayaan Imlek, praktik di lapangan sering keras. Banyak keluarga akhirnya merayakan secara diam-diam di rumah masing-masing. Pada fase ini, Imlek hampir kehilangan ruang publiknya
Bertahan Hingga Indonesia
Setelah Revolusi Kebudayaan berakhir, perayaan kembali terbuka. Festival Musim Semi bahkan berkembang menjadi migrasi tahunan terbesar di dunia, ketika jutaan warga pulang kampung.
Ketahanan Imlek juga terlihat di Indonesia. Pada era Orde Baru di bawah Presiden Soeharto, melalui Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967, perayaan Imlek dibatasi di ruang publik. Simbol budaya Tionghoa ditekan, termasuk penggunaan aksara Mandarin.
Namun tradisi tersebut tetap hidup di ruang privat. Keluarga Tionghoa merayakan secara tertutup di rumah dan kelenteng. Setelah reformasi 1998, Presiden Abdurrahman Wahid mencabut pembatasan tersebut. Pada 2002, di era Presiden Megawati Soekarnoputri, Imlek resmi menjadi hari libur nasional.
Mengapa Imlek Tak Pernah Punah?
Jawabannya terletak pada akar sosial dan keluarga. Sejak awal, Imlek bukan hanya ritual negara atau agama tertentu, melainkan bagian dari siklus hidup masyarakat agraris: penghormatan leluhur, kebersamaan keluarga, dan harapan tahun baru.
Nilai Konfusianisme seperti bakti kepada orang tua dan penghormatan leluhur memperkuat posisinya dalam struktur sosial. Inti perayaan ada di meja makan keluarga, bukan semata di istana atau institusi negara.
Dinasti bisa runtuh, ideologi bisa berganti, bahkan pelarangan bisa terjadi. Namun tradisi yang hidup dalam keluarga dan identitas budaya sulit dihapus sepenuhnya. Itulah sebabnya, setelah ribuan tahun dan melewati berbagai gejolak politik, Imlek tetap dirayakan hingga hari ini.(Red/rta)















