RakyatPost.id, London,– Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menegaskan kepada para anggota kabinetnya pada Selasa (12/5/2026), ia tidak berniat mengundurkan diri sekalipun desakan dari internal Partai Buruh agar ia lengser semakin menguat.
Starmer kini berusaha keras menjaga soliditas kabinetnya setelah Partai Buruh mengalami kekalahan besar dalam pemilu lokal pekan lalu. Jika hasil serupa terjadi dalam pemilu nasional, partai itu diperkirakan akan kehilangan kekuasaan secara telak.
Pada Selasa, dua menteri junior memilih mundur dari pemerintahan dan menyerukan perubahan kepemimpinan. Namun, hingga saat ini belum ada tokoh yang secara terbuka maju untuk menantang Starmer.
Dalam sistem pemerintahan Inggris, menteri junior adalah sebutan untuk jabatan menteri tingkat menengah atau bawah yang fokus pada detail teknis kementerian, bukan penentu arah kebijakan nasional.
Sekitar 80 anggota parlemen Partai Buruh dari kalangan backbencher — anggota parlemen yang tidak memegang jabatan pemerintahan — telah menyatakan bahwa Starmer sebaiknya mundur atau setidaknya menetapkan jadwal pengunduran dirinya. Akan tetapi, jumlah itu belum cukup untuk memulai perebutan kepemimpinan partai.
Sesuai aturan Partai Buruh, seorang penantang harus mendapat dukungan terbuka dari seperlima anggota parlemen partai di Majelis Rendah atau sebanyak 81 orang. Hingga kini, syarat itu belum terpenuhi.
Gelombang Pengunduran Diri
Pada Selasa, Miatta Fahnbulleh menjadi anggota pertama kabinet Starmer yang mengundurkan diri. Menteri perumahan, komunitas, dan pemerintahan daerah itu mendesak Starmer melakukan hal yang benar bagi negara dengan menetapkan jadwal pengunduran dirinya.
Tak lama kemudian, Jess Phillips, menteri perlindungan, juga mengundurkan diri. Dalam suratnya, ia menyebut Starmer sebagai pria yang pada dasarnya baik, tetapi ia mengkritik ketidakmampuannya melakukan perubahan besar dengan cepat.
“Saya tahu Anda sangat peduli, tetapi tindakan, bukan kata-kata, yang penting,” tulis Phillips. “Saya tidak yakin kita memahami peluang langka ini dengan semangat yang dibutuhkan dan saya tidak bisa terus menunggu krisis untuk mendorong kemajuan yang lebih cepat.”
Meski Partai Buruh menang telak dalam pemilu Juli 2024, popularitas partai itu sejak saat itu terus menurun dan Starmer menjadi sosok yang paling banyak disalahkan.
Penyebabnya beragam, mulai dari sejumlah kebijakan yang dianggap keliru, kesan bahwa pemerintah tidak memiliki visi yang jelas, kondisi ekonomi Inggris yang masih sulit, hingga keraguan terhadap kemampuan Starmer dalam mengambil keputusan.
Salah satu yang menjadi sorotan adalah penunjukan Peter Mandelson sebagai duta besar Inggris untuk Washington, meski ia diketahui memiliki hubungan dengan terpidana kasus kejahatan seksual Jeffrey Epstein.
Kemerosotan Partai Buruh
Dalam rapat kabinet pada Selasa, Starmer mengakui bahwa dirinya bertanggung jawab atas kekalahan Partai Buruh dalam pemilu lokal di berbagai wilayah Inggris. Meski begitu, ia menegaskan akan tetap memimpin.
Partai Buruh kehilangan dukungan pemilih ke berbagai arah. Sebagian beralih ke partai anti-imigran Reform UK, sebagian lagi ke Green Party yang disebut berhaluan “eko-populis”, serta ke partai-partai nasionalis di Skotlandia dan Wales.
Hasil pemilu itu menunjukkan bahwa politik Inggris kini semakin terpecah, tidak lagi hanya didominasi oleh Partai Buruh dan Partai Konservatif seperti sebelumnya.
Starmer juga menegaskan bahwa ada mekanisme resmi untuk mengganti pemimpin partai, tetapi proses itu belum dimulai.
“Negara mengharapkan kami tetap menjalankan pemerintahan,” kata Starmer. “Empat puluh delapan jam terakhir telah membuat pemerintahan tidak stabil dan itu menimbulkan biaya ekonomi nyata bagi negara dan keluarga-keluarga di Inggris.”
Dampak ketidakstabilan itu terlihat di pasar keuangan pada Selasa. Imbal hasil obligasi pemerintah Inggris naik lebih tinggi dibandingkan negara-negara lain yang setara, menandakan investor meminta keuntungan lebih besar untuk memegang utang pemerintah Inggris.
Dukungan bagi Starmer
Saat para menteri meninggalkan 10 Downing Street, beberapa di antaranya menyampaikan dukungan kepada Starmer.
Menteri Ketenagakerjaan dan Pensiun Pat McFadden mengatakan tidak ada anggota kabinet yang secara terbuka menentang Starmer dalam rapat tersebut.
Sementara itu, Menteri Bisnis Peter Kyle menyebut Starmer menunjukkan “kepemimpinan yang sangat teguh.”
Di sisi lain, Menteri Kesehatan Wes Streeting — yang sejak lama disebut-sebut berpotensi menantang Starmer — memilih tidak menjawab pertanyaan wartawan saat meninggalkan rapat.
“Wes Streeting, apakah Anda menginginkan jabatan itu atau tidak?” teriak seseorang dari seberang jalan. “Apa Anda sudah mulai membayangkan pindah ke kantor perdana menteri?”
Streeting termasuk di antara para menteri senior yang menghindari rentetan pertanyaan wartawan di luar gedung.
Meski belum ada anggota kabinet yang secara terbuka menantang Starmer, ancaman terhadap posisinya masih bisa datang dari anggota parlemen Partai Buruh lainnya.
Pemilu nasional Inggris berikutnya paling lambat digelar pada 2029. Namun dalam sistem politik Inggris, partai yang sedang berkuasa dapat mengganti pemimpinnya di tengah masa jabatan tanpa harus menggelar pemilu nasional lebih dulu. (Red/lpt)
















