RakyatPost.id, Jakarta,- Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Republik Indonesia memfasilitasi 12 peserta dari negara-negara ASEAN untuk memperkuat persahabatan kawasan melalui seni, budaya, dan pertukaran antar-masyarakat melalui Program Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia (BSBI/IACS).
Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri RI, Duta Besar Heru Hartanto Subolo, mengatakan bahwa tema BSBI “Celebrating Cultural Strength, Inspiring Global Youth” mengingatkan bahwa budaya bukan hanya menjadi sumber kepercayaan diri suatu bangsa, tetapi kekuatan yang mampu menghubungkan masyarakat melampaui batas-batas negara.
“Dengan merayakan kekuatan budaya Indonesia, kita menghargai nilai-nilai, kreativitas, keberagaman, serta tradisi hidup yang membentuk jati diri bangsa,” kata Dirjen Heru sebagaimana dikutip dari pernyataan resmi Kemlu yang dikonfirmasi di Jakarta, Rabu (5/8/2026)
Sementara itu, Direktur Diplomasi Publik Ani Nigeriawati selaku Ketua Panitia BSBI 2026 menyampaikan bahwa tahun ini merupakan penyelenggaraan BSBI yang ke-22 sejak pertama kali diinisiasi pada 2003.
Menurut Ani, selama lebih dari dua dekade dengan 1081 alumni dari 85 negara, BSBI telah berkembang menjadi salah satu platform penting diplomasi publik Indonesia dalam mempererat hubungan antar-masyarakat melalui seni dan budaya.
Para peserta BSBI tahun ini berasal dari Brunei Darussalam, Filipina, Indonesia, Kamboja, Laos, Malaysia, Tailan, Timor Leste, dan Viet Nam.
Ani menyampaikan harapan agar peserta dapat semakin mengenal dan mengapresiasi kekayaan budaya Indonesia, sekaligus memperkuat persahabatan, saling pengertian, dan kerja sama di antara masyarakat ASEAN.
“Kami percaya bahwa interaksi langsung melalui seni dan budaya akan mempererat hubungan antar-masyarakat serta memperkuat rasa kebersamaan sebagai bagian dari komunitas ASEAN,” ujarnya.
Sebagai implementing agency tahun ini, Universitas Negeri Jakarta (UNJ) kembali dipercaya untuk menyelenggarakan program pembelajaran yang memadukan pendidikan seni, budaya, bahasa Indonesia, serta pengalaman hidup bersama masyarakat.
Melalui kurikulum yang dirancang secara komprehensif, para peserta akan mengikuti berbagai lokakarya seni budaya, pembelajaran Bahasa Indonesia, kunjungan budaya, kegiatan pengabdian kepada masyarakat, serta interaksi langsung dengan komunitas lokal.
Selama kurang lebih 45 hari, para peserta akan mengenal keberagaman budaya Indonesia melalui pengalaman yang tidak hanya bersifat akademik, tetapi juga praktis dan partisipatif. (Red/ant)






