FOTO Ilustrasi. (Int)
RakyatPost.id, Jakarta,– Menjelang pekan ketiga peperangan terbuka melawan Iran, Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara mengejutkan mengungkapkan bahwa Washington dan sekutunya, Israel, mungkin memiliki tujuan akhir yang berbeda dalam operasi militer mereka.
Pernyataan tersebut muncul tak lama setelah Trump mengeklaim telah melancarkan salah satu pengeboman paling dahsyat dalam sejarah Timur Tengah yang menyasar fasilitas strategis di Pulau Kharg, Iran.
Melansir laporan CNN pada Sabtu (14/3/2026), Trump menekankan supremasi kekuatan militer Amerika Serikat di tengah perbedaan pendekatan taktis dengan Tel Aviv.
Menurut saya, negara mereka mungkin sedikit berbeda dari kita. Namun dia (Netanyahu) akan memberi tahu Anda bahwa tidak pernah ada kekuatan seperti AS,” ujar Trump kepada awak media.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengonfirmasi intensitas komunikasinya dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang disebutnya berlangsung sangat sering.
Komentar Presiden AS tersebut menyoroti dinamika aliansi di tengah gempuran tanpa henti yang terus mendera Iran. Pernyataan Trump ini dilatarbelakangi oleh operasi militer Israel yang terus berlanjut hingga Jumat (13/3/2026) malam waktu setempat.
Militer Tel Aviv dilaporkan melancarkan serangan langsung ke jantung ibu kota Teheran, dengan sasaran yang mencakup pos-pos pemeriksaan, gedung-gedung pemerintahan, hingga kompleks pergudangan.
Di sisi lain, armada militer Amerika Serikat memfokuskan daya hancurnya pada aset strategis maritim Iran. Sekitar satu jam sebelum wawancara tersebut, Trump melaporkan bahwa AS baru saja menyelesaikan operasi pengeboman berskala masif di Pulau Kharg, terminal utama jaringan ekspor minyak Teheran.
Trump mengeklaim bahwa seluruh fasilitas militer Iran di pulau tersebut telah rata dengan tanah akibat serangan udara AS. Meski demikian, secara mengejutkan ia menegaskan bahwa pasukannya sengaja tidak menghancurkan infrastruktur minyak di pulau itu.
Menurut Trump, keputusan untuk tidak menyentuh fasilitas minyak tersebut diambil semata-mata demi alasan “kesopanan” atau bentuk penahanan diri di tengah operasi yang sangat destruktif tersebut. (Red/IC)















