RakyatPost.id, Washington DC,– Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) Pete Hegseth menuturkan, hingga saat ini belum ada target atau tenggat waktu pasti untuk mengakhiri perang melawan Iran. Pernyataan tersebut disampaikan Hegseth dalam konferensi pers pada Kamis (18/3/2026) menanggapi perkembangan konflik AS-Israel melawan Iran.
Konflik Timur Tengah dimulai oleh serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari dan membuat Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei gugur. Teheran melancarkan serangan blasan dan menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran sempit yang menyumbang seperlima pasokan minyak dunia.
Kini, perang tersebut telah memasuki minggu ketiga dan mengguncang perekonomian global. “Kami tidak ingin menetapkan jangka waktu yang pasti,” ujar Hegseth sebagaimana dilansir AFP.
Keputusan di tangan Trump Hegseth menambahkan bahwa sejauh ini operasi militer berjalan sesuai rencana. Namun, dia menekankan bahwa keputusan akhir mengenai kapan perang akan dihentikan sepenuhnya berada di tangan Presiden AS Donald Trump.
Ini pada akhirnya akan menjadi pilihan presiden, di mana kita akan mengatakan, ‘Hei, kita telah mencapai apa yang kita butuhkan,'” lanjutnya. Selain mengenai durasi konflik, Pentagon juga menanggapi laporan terkait permintaan tambahan dana kepada Kongres sebesar lebih dari 200 miliar dollar AS (sekitar Rp 3.394 triliun) untuk membiayai konflik tersebut. Hegseth tidak menampik angka tersebut, namun dia mengisyaratkan bahwa jumlah itu masih bisa berubah mengikuti dinamika di lapangan.
Ia menjelaskan bahwa pihaknya tengah berkoordinasi dengan Kongres untuk memastikan pendanaan militer tetap terjaga, baik untuk operasi yang telah dilakukan maupun potensi kebutuhan di masa depan.
Detail operasi militer Dalam kesempatan yang sama, Ketua Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine memberikan rincian mengenai persenjataan yang dikerahkan untuk melawan pasukan Iran dan sekutunya.
Caine mengungkapkan bahwa pesawat A-10 Warthog, yang dirancang untuk serangan udara jarak dekat, saat ini aktif dikerahkan di jalur perairan strategis Selat Hormuz. Pesawat tersebut ditugaskan untuk memburu dan melumpuhkan kapal serang cepat milik Iran yang telah menutup selat sempit tersebut. Selain di perairan, operasi udara juga dilakukan di wilayah daratan Irak menggunakan helikopter serang AH-64 Apache. “Helikopter AH-64 Apache digunakan di Irak untuk menargetkan kelompok milisi yang bersekutu dengan Iran di sana,” jelas Caine.
Dia juga menambahkan bahwa sejumlah sekutu AS telah mulai mengoperasikan helikopter serang untuk menangkal serangan pesawat nirawak bunuh diri atau drone kamikaze yang diluncurkan oleh pasukan Teheran. (Red/kps)















