• Beranda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Rakyatpost.id
  • Beranda
  • Metro
  • Nasional
  • Internasional
  • Sumut
  • Medan
  • Daerah
  • Politik
  • Hukum
  • Olahraga
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Ragam
Tidak ditemukan.
Tampilkan seluruhnya.
  • Beranda
  • Metro
  • Nasional
  • Internasional
  • Sumut
  • Medan
  • Daerah
  • Politik
  • Hukum
  • Olahraga
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Ragam
Tidak ditemukan.
Tampilkan seluruhnya.
Rakyatpost.id
Tidak ditemukan.
Tampilkan seluruhnya.
  • Beranda
  • Metro
  • Nasional
  • Internasional
  • Sumut
  • Medan
  • Daerah
  • Politik
  • Hukum
  • Olahraga
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Ragam
Home Metro

Sejarah Imlek: Pernah Ditekan Saat Revolusi Mao hingga Dilarang di Indonesia

adminberita
15 Februari 2026
/ Metro
0 0
0
Sejarah Imlek: Pernah Ditekan Saat Revolusi Mao hingga Dilarang di Indonesia

RakyatPost.id, Jakarta, – Sejarah Imlek ternyata tidak selalu identik dengan lampion merah, angpau, dan makan malam keluarga yang hangat. Di balik kemeriahan Tahun Baru Lunar, ada periode kelam ketika tradisi ini pernah ditekan, dicap feodal, bahkan nyaris dihapus dalam pusaran politik dan revolusi.

Berdasarkan catatan sejarah, Sejarah Imlek berakar jauh sebelum Tiongkok memiliki kaisar pertama. Tradisi ini lahir dari masyarakat agraris kuno di kawasan Sungai Kuning sekitar 5.000 hingga 3.000 SM. Saat itu, pergantian musim dari dingin ke semi menjadi penanda harapan baru bagi petani yang menggantungkan hidup pada hasil panen.

Baca Juga

Mantan Pimpinan KPK Usul Pemerintah Buat Standar Audit Kerugian Negara

APBN ‘Ngucur’ Rp147 T untuk IKN Warisan Jokowi

OJK Sebut Klaim Terkait PHK di BPJS Ketenagakerjaan Naik di Maret 2026

Dalam konteks tersebut, Sejarah Imlek bukan sekadar perayaan budaya, melainkan ritual syukur dan doa untuk musim tanam yang baru. Masyarakat kuno mengamati fase bulan dan titik balik matahari musim dingin (winter solstice) sebagai dasar penanggalan. Dari sinilah berkembang kalender luni-solar yang menjadi fondasi Tahun Baru Imlek.

 

 

JAKARTA – Sejarah Imlek ternyata tidak selalu identik dengan lampion merah, angpau, dan makan malam keluarga yang hangat. Di balik kemeriahan Tahun Baru Lunar, ada periode kelam ketika tradisi ini pernah ditekan, dicap feodal, bahkan nyaris dihapus dalam pusaran politik dan revolusi.

Berdasarkan catatan sejarah, Sejarah Imlek berakar jauh sebelum Tiongkok memiliki kaisar pertama. Tradisi ini lahir dari masyarakat agraris kuno di kawasan Sungai Kuning sekitar 5.000 hingga 3.000 SM. Saat itu, pergantian musim dari dingin ke semi menjadi penanda harapan baru bagi petani yang menggantungkan hidup pada hasil panen.

Dalam konteks tersebut, Sejarah Imlek bukan sekadar perayaan budaya, melainkan ritual syukur dan doa untuk musim tanam yang baru. Masyarakat kuno mengamati fase bulan dan titik balik matahari musim dingin (winter solstice) sebagai dasar penanggalan. Dari sinilah berkembang kalender luni-solar yang menjadi fondasi Tahun Baru Imlek.

Dari Tradisi Rakyat ke Legitimasi Kekuasaan
Sebelum distandarisasi, setiap dinasti di Tiongkok memiliki penetapan awal tahun yang berbeda. Namun perubahan besar terjadi pada masa Dinasti Han, khususnya di era Kaisar Han Wudi (141–87 SM). Pada 104 SM diperkenalkan Kalender Taichu yang menetapkan bulan pertama lunar sebagai awal tahun resmi negara.

Sejak saat itu, Tahun Baru Lunar tidak hanya menjadi perayaan rakyat, tetapi juga instrumen politik. Kaisar dianggap sebagai “Putra Langit” yang memerintah berdasarkan mandat surga. Kalender resmi menjadi simbol kontrol atas waktu dan kosmos. Merayakan tahun baru berarti menunjukkan harmoni antara negara dan tatanan langit.

Imlek pun bertransformasi menjadi festival yang memiliki fungsi integratif. Dengan satu kalender nasional, seluruh wilayah kekaisaran mengikuti siklus waktu yang sama. Administrasi, pajak, dan pertanian menjadi lebih teratur. Di sinilah Imlek berperan sebagai alat stabilitas sosial.

Masa Paling Kritis: Revolusi Kebudayaan
Meski melewati berbagai dinasti, perang saudara, hingga penjajahan asing, Imlek hampir tidak pernah benar-benar berhenti dirayakan. Namun situasi berubah drastis ketika komunisme berkuasa di bawah Mao Zedong pada 1949.

Pemerintah Republik Rakyat Tiongkok mulai menggunakan kalender Gregorian secara resmi. Tahun Baru Lunar tetap ada, tetapi istilahnya diubah menjadi Festival Musim Semi (Chun Jie). Pada awal 1950-an, Imlek belum dilarang, tetapi unsur yang dianggap feodal dan tahayul mulai dikritik.

Tekanan memuncak saat Revolusi Kebudayaan (1966–1976). Gerakan penghancuran “Empat Hal Lama”—kebiasaan lama, budaya lama, tradisi lama, dan pemikiran lama—membuat banyak ritual tradisional ditekan. Sembahyang leluhur, kuil, dan simbol budaya diawasi ketat. Perayaan publik dibatasi, bahkan di sejumlah wilayah nyaris tak terlihat.

Meski tidak ada dekret resmi yang menghukum mati perayaan Imlek, praktik di lapangan sering keras. Banyak keluarga akhirnya merayakan secara diam-diam di rumah masing-masing. Pada fase ini, Imlek hampir kehilangan ruang publiknya

Bertahan Hingga Indonesia
Setelah Revolusi Kebudayaan berakhir, perayaan kembali terbuka. Festival Musim Semi bahkan berkembang menjadi migrasi tahunan terbesar di dunia, ketika jutaan warga pulang kampung.

Ketahanan Imlek juga terlihat di Indonesia. Pada era Orde Baru di bawah Presiden Soeharto, melalui Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967, perayaan Imlek dibatasi di ruang publik. Simbol budaya Tionghoa ditekan, termasuk penggunaan aksara Mandarin.

Namun tradisi tersebut tetap hidup di ruang privat. Keluarga Tionghoa merayakan secara tertutup di rumah dan kelenteng. Setelah reformasi 1998, Presiden Abdurrahman Wahid mencabut pembatasan tersebut. Pada 2002, di era Presiden Megawati Soekarnoputri, Imlek resmi menjadi hari libur nasional.

Mengapa Imlek Tak Pernah Punah?

Jawabannya terletak pada akar sosial dan keluarga. Sejak awal, Imlek bukan hanya ritual negara atau agama tertentu, melainkan bagian dari siklus hidup masyarakat agraris: penghormatan leluhur, kebersamaan keluarga, dan harapan tahun baru.

Nilai Konfusianisme seperti bakti kepada orang tua dan penghormatan leluhur memperkuat posisinya dalam struktur sosial. Inti perayaan ada di meja makan keluarga, bukan semata di istana atau institusi negara.

Dinasti bisa runtuh, ideologi bisa berganti, bahkan pelarangan bisa terjadi. Namun tradisi yang hidup dalam keluarga dan identitas budaya sulit dihapus sepenuhnya. Itulah sebabnya, setelah ribuan tahun dan melewati berbagai gejolak politik, Imlek tetap dirayakan hingga hari ini.(Red/rta)

SendShareTweet
Sebelumnya

Enam Pejabat Pemprov Sumut Mundur, Bobby: Kinerja Buruk

Selanjutnya

Muscab IV Partai HANURA,  Secara Aklamasi Hendra Sucipto Sembiring  Terpilih Ketua DPC HANURA Deli Serdang. 2025 – 2030

Baca Juga

Mantan Pimpinan KPK Usul Pemerintah Buat Standar Audit Kerugian Negara
Hukum

Mantan Pimpinan KPK Usul Pemerintah Buat Standar Audit Kerugian Negara

19 Mei 2026
APBN ‘Ngucur’ Rp147 T untuk IKN Warisan Jokowi
Metro

APBN ‘Ngucur’ Rp147 T untuk IKN Warisan Jokowi

17 Mei 2026
OJK Sebut Klaim Terkait PHK di BPJS Ketenagakerjaan Naik di Maret 2026
Metro

OJK Sebut Klaim Terkait PHK di BPJS Ketenagakerjaan Naik di Maret 2026

16 Mei 2026
Presiden Puji Inovasi Pertanian, Berkelakar Bisa Ditiru Negara Lain
Metro

Presiden Puji Inovasi Pertanian, Berkelakar Bisa Ditiru Negara Lain

16 Mei 2026
Menteri PU Dody Bentuk Satgas untuk Kebut Pembangunan Sekolah Rakyat
Metro

Menteri PU Dody Bentuk Satgas untuk Kebut Pembangunan Sekolah Rakyat

15 Mei 2026
Universitas Dharmawangsa Jajaki Kerjasama Dengan PemkoTanjungbalai : Perkuat Sinergi Dunia Akademik dan Pemerintahan
Metro

Universitas Dharmawangsa Jajaki Kerjasama Dengan PemkoTanjungbalai : Perkuat Sinergi Dunia Akademik dan Pemerintahan

14 Mei 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tidak ditemukan.
Tampilkan seluruhnya.

Populer

  • Penantian 18 Tahun!, Bupati Vandiko Desak DPR Sahkan RUU Masyarakat Adat : Jangan Ada Lagi Wilayah “Abu-Abu”

    Penantian 18 Tahun!, Bupati Vandiko Desak DPR Sahkan RUU Masyarakat Adat : Jangan Ada Lagi Wilayah “Abu-Abu”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • INI GURU SEJATI!” Ketua Yayasan Siraja Batak Nikolas Naibaho Terharu, Disdik Samosir Sisihkan Gaji untuk 4 Tragedi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Besok! Pomparan Simbolon Se-Samosir Kumpul di Sopo Bolon, Ketum Effendi Simbolon Hadir Lantik 38 Sektor PSBI

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Air Bersih Mengalir! Samosir Dapat 30 Sumur Bor Bantuan KASAD, Bupati & Dandim Langsung  Launching 

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Hangatnya Paskah di Samosir :  dr. Iwan Sihaloho Layani Konsultasi Kesehatan Ibu Happy Basa Silaban

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Duka di Hariara Pintu : Disdik Samosir Peluk Keluarga Krishna & Temannya, Serahkan Santunan Rp5 Juta Per Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pelantikan Akbar PSBI Samosir Dihadiri Effendi Simbolon, Bupati Vandiko Siap Support Program

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PSI Jadi Harapan Baru Warga Samosir untuk Perjuangkan Pembangunan Daerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Rakyatpost.id

© 2025 Rakyatpost.id - Mengabarkan & Mengedukasi.

Navigate Site

  • Beranda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks

Follow Us

Tidak ditemukan.
Tampilkan seluruhnya.
  • Beranda
  • Metro
  • Nasional
  • Internasional
  • Sumut
  • Medan
  • Daerah
  • Politik
  • Hukum
  • Olahraga
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Ragam

© 2025 Rakyatpost.id - Mengabarkan & Mengedukasi.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In