RakyatPost.id, Teheran, – Eskalasi konflik di Timur Tengah semakin memanas setelah Iran meluncurkan gelombang serangan drone dan rudal ke sejumlah negara Teluk. Serangan ini terjadi pada hari ke-13 berkecamuknya perang Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Teheran, Kamis (12/3/2026).
Akibat serangan tersebut, harga minyak mentah Brent melonjak hingga berada di kisaran 100 dollar AS per barel pada Kamis. Angka ini menunjukkan kenaikan lebih dari 38 persen dibandingkan sebelum perang dimulai.
Serangan di Bahrain, Saudi, dan Kuwait Pemerintah Bahrain melaporkan adanya serangan yang menghantam tangki bahan bakar di Kegubernuran Muharraq. Mengingat Bahrain merupakan markas Armada Kelima Angkatan Laut AS, otoritas setempat segera mengeluarkan peringatan kepada warga.
Tetap berada di dalam ruangan dan tutup jendela,” bunyi imbauan Pemerintah Bahrain kepada penduduknya pada Kamis pagi, sebagaimana dilansir Al Jazeera. Sementara itu, Kementerian Pertahanan Arab Saudi mengonfirmasi telah mengadang sejumlah drone yang mengarah ke ladang minyak Shaybah dan distrik kedutaan.
Setidaknya tujuh drone dilaporkan berhasil dilumpuhkan saat menuju ladang minyak tersebut pada Rabu (11/3/2026).
Kondisi serupa terjadi di Kuwait. Kementerian Pertahanan Kuwait melaporkan dua orang terluka setelah sebuah drone musuh menghantam bangunan tempat tinggal dan menyebabkan kerusakan material. Serangan ini juga berdampak pada sektor energi.
Kementerian Ketenagalistrikan Kuwait menyatakan bahwa enam jalur transmisi listrik tidak berfungsi setelah terkena serpihan drone yang berhasil dicegat. Meski demikian, pihak kementerian memastikan bahwa situasi listrik dan air masih terkendali.
Selain itu, otoritas Penerbangan Sipil Kuwait menyebut Bandara Internasional Kuwait turut menjadi sasaran serangan drone, namun hanya menyebabkan kerusakan material.
Kantor berita AFP melaporkan suara ledakan terdengar di pusat kota Dubai, disertai kepulan asap tipis di atas lingkungan pemukiman.
Di ibu kota Abu Dhabi, kebakaran yang terjadi di bandara lama berhasil dikendalikan setelah sistem pertahanan udara mencegat target yang datang.
Kantor Media Abu Dhabi memastikan tidak ada korban luka dalam insiden tersebut. Di sektor maritim, badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) melaporkan adanya serangan terhadap sebuah kapal kontainer di posisi 35 mil laut sebelah utara Jebel Ali, UEA.
Sementara di Yordania, sirene peringatan dilaporkan berbunyi di seluruh kota di negara tersebut.
Operasional pelabuhan Irak lumpuh Dampak perang ini memaksa Irak menghentikan total operasional terminal minyaknya.
Hal ini menyusul serangan perahu bermuatan peledak terhadap dua kapal tanker minyak mentah yang tengah memuat logistik di pelabuhan Umm Qasr, Provinsi Basra. Direktur Perusahaan Umum Pelabuhan Irak, Farhan al-Fartousi, mengonfirmasi situasi tersebut kepada Kantor Berita Irak.
Seluruh operasional terminal minyak telah dihentikan sepenuhnya, sementara pelabuhan komersial terus berfungsi normal,” kata Al-Fartousi. Dia menambahkan bahwa tim penyelamat telah mengevakuasi satu jenazah dan menyelamatkan 38 orang lainnya pasca-serangan tersebut.
Krisis energi global Sejauh ini, perang Iran yang dipicu oleh AS telah menelan sekitar 2.000 korban jiwa dan mengacaukan pasar energi serta transportasi global. Lalu lintas di Selat Hormuz, jalur air yang membawa seperlima pasokan minyak dan gas dunia, secara efektif terhenti. Iran menegaskan komitmennya untuk memutus pasokan energi ke pihak lawan selama perang berlanjut.
“Bahkan satu liter minyak pun tidak akan diekspor dari Teluk ke AS, Israel, dan mitra-mitranya selama perang terhadap Teheran terus berlanjut,” tegas pihak Iran.
Konflik yang meluas ini memicu rencana pelepasan cadangan minyak strategis dalam jumlah besar guna meredam guncangan bahan bakar terburuk sejak tahun 1970-an. (Red/kps)















